
Dalam sebuah penelitian, ada kalanya peneliti sudah memiliki tujuan yang jelas, tetapi perjalanan untuk mencapainya tidak sesederhana melakukan satu kali pengujian.
Penelitian dapat melibatkan berbagai tahapan: menentukan metode, mempersiapkan sampel, melakukan analisis, mengevaluasi hasil, hingga menyesuaikan kembali proses ketika ditemukan kendala. Semakin kompleks tujuan penelitian, semakin banyak keputusan yang perlu dibuat sepanjang prosesnya.
Pada kondisi seperti ini, peneliti tidak hanya membutuhkan tempat untuk melakukan pengujian. Mereka membutuhkan partner yang dapat memahami tujuan penelitian dan ikut melihat keseluruhan prosesnya.
Memulai dari Tujuan Penelitian
Setiap proyek riset memiliki kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, pembahasan tidak selalu dimulai dari pertanyaan “sampelnya mau diuji apa?”, tetapi dari “apa yang ingin dicapai dari penelitian ini?”
Tujuan tersebut kemudian menjadi dasar untuk memahami kebutuhan proyek secara keseluruhan. Jenis sampel, parameter yang ingin diketahui, metode yang memungkinkan digunakan, hingga bentuk data yang dibutuhkan perlu dipertimbangkan sebelum proses pengerjaan dimulai.
Di sinilah komunikasi antara peneliti dan tim riset menjadi bagian penting.
Peneliti dapat menyampaikan tujuan, permasalahan, atau rancangan penelitian yang dimiliki. Selanjutnya, kebutuhan tersebut dibahas untuk menentukan tahapan yang sesuai.
Ketika Satu Penelitian Membutuhkan Beberapa Tahapan
Sebuah proyek penelitian tidak selalu selesai melalui satu jenis analisis.
Ada penelitian yang membutuhkan persiapan sampel terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pengujian. Ada pula yang membutuhkan kombinasi metode untuk mendapatkan data yang lebih lengkap.
Setiap tahapan memiliki keterkaitan dengan tahapan berikutnya. Karena itu, prosesnya perlu direncanakan sebagai satu kesatuan, bukan berdiri sendiri-sendiri.
Pendekatan seperti ini memungkinkan setiap pekerjaan tetap mengacu pada tujuan utama proyek.
Proses Riset Juga Membutuhkan Diskusi
Dalam perjalanan penelitian, kondisi di lapangan tidak selalu persis seperti yang direncanakan.
Karakteristik sampel dapat memberikan tantangan tersendiri. Hasil awal dapat menimbulkan pertanyaan baru. Metode yang direncanakan mungkin perlu dievaluasi kembali berdasarkan kondisi penelitian.
Pada situasi seperti ini, komunikasi menjadi penting.
Diskusi antara peneliti dan tim membantu mengidentifikasi apa yang sedang terjadi dan menentukan langkah berikutnya berdasarkan kebutuhan proyek. Setiap keputusan tetap perlu mempertimbangkan tujuan penelitian, metode yang digunakan, serta kondisi aktual selama pengerjaan.
Ada Tim yang Mengawal Prosesnya
Pendekatan project-based research membuat sebuah proyek dilihat sebagai rangkaian pekerjaan yang saling terhubung.
Tim analis dapat terlibat dalam pengerjaan sesuai kebutuhan proyek, sementara prosesnya tetap berada dalam pengawasan dan quality control dari tenaga ahli laboratorium.
Dengan begitu, pekerjaan tidak berhenti pada menghasilkan data. Setiap tahap perlu dikerjakan dengan memperhatikan prosedur yang telah disepakati dan kebutuhan penelitian.
Karena Setiap Penelitian Memiliki Ceritanya Sendiri
Bagi seorang peneliti, sampel yang datang ke laboratorium biasanya merupakan bagian dari pertanyaan penelitian yang lebih besar.
Ada tujuan yang ingin dicapai, permasalahan yang ingin dijawab, dan keputusan yang nantinya akan dibuat berdasarkan data yang diperoleh.
Karena itu, pendekatan terhadap penelitian juga perlu melihat konteks di balik sampel, bukan hanya sampelnya.
Chainlab hadir dengan pendekatan project-based research, dengan mengembangkan kebutuhan penelitian bersama klien berdasarkan tujuan dan ruang lingkup proyek. Mulai dari pembahasan kebutuhan, perencanaan tahapan, pengerjaan, hingga pengolahan hasil dilakukan sebagai bagian dari satu rangkaian proyek.
Sebab dalam penelitian yang kompleks, yang dibutuhkan bukan hanya seseorang untuk mengerjakan satu bagian pekerjaan. Ada kalanya peneliti membutuhkan partner yang dapat berjalan bersama mereka sepanjang proses riset.